11 Mei 2015
A. Pendahuluan
Ini adalah jam pelajarannya Pak Kusoy. Beliau adalah guru mata pelajaran pengetahuan sosial di sekolah kami."Hari ini kita akan mencoba membahas tentang masalah yang terjadi di kota kita", kata Pak Kusoy sambil berdiri di depan kami. Suaranya nyaring, matanya memandang kami satu per satu, seakan akan ia minta perhatian dari kami yang sebetulnya sudah kehilangan gairah untuk belajar. Maklum, siang ini adalah jam pelajaran terakhir. Di luar udara sangat panas. "Coba, menurut kamu Andri, masalah apa yang sedang hangat dibicarakan sekarang ini?" Pak Kusoy menyuruh Andri yang kelihatan sepereti ngantuk. Andri merasa kaget mendapat pertanyaan yang mendadak.
"Anu...pak! Masalah pengangguran...pak!" kata Andri sambil membetulkan rambutnya.
"Mengapa kamu menganggap masalah pengangguran sebagai masalah yang aktual? Bukankah masalah tersebut merupakan masalah yang sejak lama kita hadapi?"
Andri tidak menjawab. Tampak rasa kantuknya belum seluruhnya hilang dari matanya yang kecil berlindung di bawah bulu alisnya yang tebal.
"Bagaimana menurutmu Bia?" kata Pak Kusoy menunjuk Bia yang baru saja memperbaiki cara duduknya. Tampaknya wanita tomboi ini juga merasa gerah. Sama seperti kami. Memang panas siang ini.
"Menurut saya masalah pengangguran, walaupun masalah yang sudah lama, akkan tetapi masih tetap aktual, sebab sampai sekarang masih belum ditemukkan solusinya...!"
"Bagus. Apakah sekarang ini ada masalah yang lebih penting untuk dipecahkan, selain masalah pengangguran?"
Kami diam sebentar. Tiba-tiba Donto si kutu buku mengacungkan tangannya. "Ada, pak! Sekarang ini kota kita dihadapkan kepada permasalahan sampah. Berdasarkan informasi pemerintah kota sulit membuang sampah karerna tidak ada tempat pembuangan yang layak, akhirnya sudut-sudut kota kita dihiasi oleh tumpukan sampah yang menggunung dan baunya sangat menyengat...!"
"Mengapa kamu menganggap masalah sampah merupakan masalah aktual?"
"Jelas, pak. Sebab, masalah sampah selain mengganggu lingkungan masyarakat, juga sudah menjadi isu politik. Bukan itu saja pak, karena masalah sampah itu kota kita dinobatkan sebagai kota terkotor."
Pak Kusoy mengangguk-anggukkan kepala. ia tampak terkesan dengan argumentasi si kutu buku. "Apakah kamu setuju dengan pendapat Donto, Ria?"
"Setuju sekali pak. Sebab, dengan julukan Kota Terkotor itu mengusik harga diri saya sebagai penduduk kota ini!"
Pak Kusoy tersenyum. Tampaknya perangkapnya mengena; dan kami tidak menyadarinya.
"Nah, kalau begitu topik yang akan kita bicarakan hari ini adalah tentang sampah. Bagaimana, apakah kalian setuju?"
"Setuju pak...!"
"Menurut kamu, apa yang akan kita permasalahkan dari topik sampah ini?"
Lagi-lagi kami terdiam.
"Bagaimana kalau kita mulai dengan masalah, harus dibagaimanakan sampah yang menumpuk itu?" kata Ria.
"Ya, dibuang...!" kata kami serempak. Kelas menjadi sedikit ribut.
Kali ini benar-benar tidak ada di antara kami yang mengantuk.
"Bagus...! Apakah kamu dapat merumuskan masalah dengan lebih jelas?"
"Menurut saya bukan harus dibagaimanakan sampah yang menumpuk itu, tetapi bagaimana cara menanggulangi tumpukan sampah," kata Denok yang dari tadi tampak serius mengikuti diskusi.
"Bagus...!" kata Pak Kusoy sambil menulis di papan tulis. "Apakah selain masalah ini, ada masalah lain yang perlu kalian bahas?"
"Ada Pak...! Menurut saya yang paling penting adalah bagaimana seharusnya masyarakat memperlakukan sampah," kata Donto.
"Mengapa kamu merasa hal itu dianggap penting?"
"Sebab, bagaimanapun adanya tumpukan sampah itu, dikarenakan ulah atau hasil dari pekerjaan masyarakat. Nah, dengan demikian kita harus memberikan solusi, apa saja yang harus dilakukan masyarakat terhadap sampah yang mereka hasilkan itu."
Cerita di atas merupakan penggalan dari contoh penerapan strategi pembelajaran yang bertumpu pada penyelesaian masalah (SPBM).
Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM bersandarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
Dilihat dari aspek filosofis tentang fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup di masyakarat, maka SPBM merupakan strategi yang memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan pada kenyataan setiap manusia akan selalu dihadapkan kepada masalah. Baik itu masalah pribadi, keluarga, negara bahkan dunia dan masalah kecil hingga yang besar. SPBM diharapkan dapat memberikan latihan dan kemampuan setiap individu untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.
B. Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM
3 ciri utama SPBM
- Merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, yaitu aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
- Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. menempatkan masalah merupakan kata kunci dari proses pemeblajaran.
- Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.
- Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
- Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah seta membuat tantangan intelektual siswa.
- Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
- Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan)
C. Hakikat Masalah dalam SPBM
Antara SPI dan SPBM memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada jenis masalah serta tujuan yang ingin dicapai.
Masalah SPI adalah masalah yang bersifat tertutup. Artinya, jawaban dari masalah itu sudah pasti.
Masalah SPBM adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya, jawaban dari masalah tersebut belum pasti.
Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan.
Kriteria pemilihan bahan pelajaran SPBM :
- Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik yang bisa bersumber dari berita, rekaman video, dan yang lainnya.
- Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
- Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak, sehingga terasa masnfaatnya.
- Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
- Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.
D. Tahapan-tahapan dalam SPBM
- Merumuskan masalah,
- Menganalisis masalah,
- Merumuskan hipotesis,
- Mengumpulkan data,
- Pengujian hipotesis,
- Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah.
Dirgantara Wicaksono