Kamis, 21 Mei 2015

STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH (SPBM)

11 Mei 2015

A. Pendahuluan
Ini adalah jam pelajarannya Pak Kusoy. Beliau adalah guru mata pelajaran pengetahuan sosial di sekolah kami.
"Hari ini kita akan mencoba membahas tentang masalah yang terjadi di kota kita", kata Pak Kusoy sambil berdiri di depan kami. Suaranya nyaring, matanya memandang kami satu per satu, seakan akan ia minta perhatian dari kami yang sebetulnya sudah kehilangan gairah untuk belajar. Maklum, siang ini adalah jam pelajaran terakhir. Di luar udara sangat panas. "Coba, menurut kamu Andri, masalah apa yang sedang hangat dibicarakan sekarang ini?" Pak Kusoy menyuruh Andri yang kelihatan sepereti ngantuk. Andri merasa kaget mendapat pertanyaan yang mendadak.
"Anu...pak! Masalah pengangguran...pak!" kata Andri sambil membetulkan rambutnya.
"Mengapa kamu menganggap masalah pengangguran sebagai masalah yang aktual? Bukankah masalah tersebut merupakan masalah yang sejak lama kita hadapi?"
Andri tidak menjawab. Tampak rasa kantuknya belum seluruhnya hilang dari matanya yang kecil berlindung di bawah bulu alisnya yang tebal.
"Bagaimana menurutmu Bia?" kata Pak Kusoy menunjuk Bia yang baru saja memperbaiki cara duduknya. Tampaknya wanita tomboi ini juga merasa gerah. Sama seperti kami. Memang panas siang ini.
"Menurut saya masalah pengangguran, walaupun masalah yang sudah lama, akkan tetapi masih tetap aktual, sebab sampai sekarang masih belum ditemukkan solusinya...!"
"Bagus. Apakah sekarang ini ada masalah yang lebih penting untuk dipecahkan, selain masalah pengangguran?"
Kami diam sebentar. Tiba-tiba Donto si kutu buku mengacungkan tangannya. "Ada, pak! Sekarang ini kota kita dihadapkan kepada permasalahan sampah. Berdasarkan informasi pemerintah kota sulit membuang sampah karerna tidak ada tempat pembuangan yang layak, akhirnya sudut-sudut kota kita dihiasi oleh tumpukan sampah yang menggunung dan baunya sangat menyengat...!"
"Mengapa kamu menganggap masalah sampah merupakan masalah aktual?"
"Jelas, pak. Sebab, masalah sampah selain mengganggu lingkungan masyarakat, juga sudah menjadi isu politik. Bukan itu saja pak, karena masalah sampah itu kota kita dinobatkan sebagai kota terkotor."
Pak Kusoy mengangguk-anggukkan kepala. ia tampak terkesan dengan argumentasi si kutu buku. "Apakah kamu setuju dengan pendapat Donto, Ria?"
"Setuju sekali pak. Sebab, dengan julukan Kota Terkotor itu mengusik harga diri saya sebagai penduduk kota ini!"
Pak Kusoy tersenyum. Tampaknya perangkapnya mengena; dan kami tidak menyadarinya.
"Nah, kalau begitu topik yang akan kita bicarakan hari ini adalah tentang sampah. Bagaimana, apakah kalian setuju?"
"Setuju pak...!"
"Menurut kamu, apa yang akan kita permasalahkan dari topik sampah ini?"
Lagi-lagi kami terdiam.
"Bagaimana kalau kita mulai dengan masalah, harus dibagaimanakan sampah yang menumpuk itu?" kata Ria.
"Ya, dibuang...!" kata kami serempak. Kelas menjadi sedikit ribut.
Kali ini benar-benar tidak ada di antara kami yang mengantuk.
"Bagus...! Apakah kamu dapat merumuskan masalah dengan lebih jelas?"
"Menurut saya bukan harus dibagaimanakan sampah yang menumpuk itu, tetapi bagaimana cara menanggulangi tumpukan sampah," kata Denok yang dari tadi tampak serius mengikuti diskusi.
"Bagus...!" kata Pak Kusoy sambil menulis di papan tulis. "Apakah selain masalah ini, ada masalah lain yang perlu kalian bahas?"
"Ada Pak...! Menurut saya yang paling penting adalah bagaimana seharusnya masyarakat memperlakukan sampah," kata Donto.
"Mengapa kamu merasa hal itu dianggap penting?"
"Sebab, bagaimanapun adanya tumpukan sampah itu, dikarenakan ulah atau hasil dari pekerjaan masyarakat. Nah, dengan demikian kita harus memberikan solusi, apa saja yang harus dilakukan masyarakat terhadap sampah yang mereka hasilkan itu."

Cerita di atas merupakan penggalan dari contoh penerapan strategi pembelajaran yang bertumpu pada penyelesaian masalah (SPBM).

Dilihat dari aspek psikologi belajar SPBM bersandarkan kepada psikologi kognitif yang berangkat dari asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.

Dilihat dari aspek filosofis tentang fungsi sekolah sebagai arena atau wadah untuk mempersiapkan anak didik agar dapat hidup di masyakarat, maka SPBM merupakan strategi yang memungkinkan dan sangat penting untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan pada kenyataan setiap manusia akan selalu dihadapkan kepada masalah. Baik itu masalah pribadi, keluarga, negara bahkan dunia dan masalah kecil hingga yang besar. SPBM diharapkan dapat memberikan latihan dan kemampuan setiap individu untuk dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi.


B. Konsep Dasar dan Karakteristik SPBM

     3 ciri utama SPBM

  1. Merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi SPBM ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa, yaitu aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.
  2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. menempatkan masalah merupakan kata kunci dari proses pemeblajaran. 
  3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. 
SPBM dapat diterapkan, diantaranya :

  • Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar dapat mengingat materi pelajaran, akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh.
  • Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah seta membuat tantangan intelektual siswa.
  • Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajarnya.
  • Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya (hubungan antara teori dengan kenyataan)

C. Hakikat Masalah dalam SPBM
Antara SPI dan SPBM memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut terletak pada jenis masalah serta tujuan yang ingin dicapai.
Masalah SPI adalah masalah yang bersifat tertutup. Artinya, jawaban dari masalah itu sudah pasti.
Masalah SPBM adalah masalah yang bersifat terbuka. Artinya, jawaban dari masalah tersebut belum pasti.
Hakikat masalah dalam SPBM adalah gap atau kesenjangan antara situasi nyata dan kondisi yang diharapkan, atau antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan.

Kriteria pemilihan bahan pelajaran SPBM :

  1. Bahan pelajaran harus mengandung isu-isu yang mengandung konflik yang bisa bersumber dari berita, rekaman video, dan yang lainnya.
  2. Bahan yang dipilih adalah bahan yang bersifat familiar dengan siswa, sehingga setiap siswa dapat mengikutinya dengan baik.
  3. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak, sehingga terasa masnfaatnya.
  4. Bahan yang dipilih merupakan bahan yang mendukung tujuan atau kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  5. Bahan yang dipilih sesuai dengan minat siswa sehingga setiap siswa merasa perlu untuk mempelajarinya.



D. Tahapan-tahapan dalam SPBM

  1. Merumuskan masalah,
  2. Menganalisis masalah,
  3. Merumuskan hipotesis,
  4. Mengumpulkan data,
  5. Pengujian hipotesis,
  6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah.
Dirgantara Wicaksono

Rabu, 20 Mei 2015

STRATEGI PEMBELAJARAN INKUIRI (SPI)

Sabtu, 09 Mei 2015

A. Pendahuluan
Seorang guru IPA akan mengajarkan tentang perbedaan berat jenis antara air dan bensin. setelah ia menyampaikan pokok bahasan kepada siswa yang diajarnya, guru tersebut kemudian menuangkan bensin dari dalam botol yang sengaja ia bawa ke dalam sebuah cangkir yang ada di mejanya. Setelah itu kemudian ia juga menuangkan air ke dalam tempat yang sama. Sambil berlaga seorang pesulap, pak guru kemudian menyalakan api, dan meletakkannya di atas cairan itu. Api pun menyala. Seluruh siswa merasa heran melihat peristiwa itu. Secara serentak mereka bertanya : "Mengapa bisa terjadi seperti itu? Bukankah bensin itu ada di bawah air?"
Pak guru IPA tersenyum sambil mengangkat bahunya.
"Ya, mengapa?" timpal pak guru. "Coba siapa yang dapat menebak kira - kira apa sebabnya!"
Seluruh siswa tampak seperti berpikir. Tiba - tiba seorang siswa bertanya sambil mengacungkan tangannya, "Apakah air yang bapak tuangkan tadi lebih banyak dibanddingkan bengsin?"
"Oh, tidak..." jawab pak guru
"Apakah itu disebabkan karena air bercampur dengan bensin?"
"Emh...Bapak kira tidak, tuh...!"
Seluruh siswa terdiam sambil menatap nyala api yang kian mengecil dan akhirnya padam.
"Nah, sekarang coba kalian lihat, api itu telah padam. Kita coba sekarang bakar lagi..." kata pak guru sambil menyalakan kembali apinya dan meletakkannya kembali di atas cairan itu. Namun, ternyata api tidak mau menyala. "Ternyata tidak mau menyalakan...!"
"Ya...!" kata siswa serempak.
"Apakah cairan itu telah habis...?"
"Coba kalian lihat sendiri!" kata pak guru sambil memperlihatkan tempat air. "Apa yang kamu lihat...?"
"Cairannya masih ada...!"
"Cairan apa yang masih ada itu?"
Kembali siswa terdiam untuk beberapa saat. Pak guru menatap siswa sambil memancing siswa untuk menjawab atau mengeluarkan pendapat. Namun, tidak ada seorangpun yang berkata.
"Nah, kalau begitu bapak akan coba membakar kembali cairan ini" kata pak guru. Namun, lagi-lagi api tidak mau menyala seperti pada demonstrasi yang pertama tadi.
Tiba-tiba seorang siswa mengacungkan tangan sambil tersenyum.
"Saya tahu jawabannya, Pak!"
"Bagus, coba apa?"
"Cairan yang tersisa itu adalah air, Pak!"
"Kenapa kamu bisa mengatakan demikian?"
"Sebab bensin sudah habis terbakar."
"Bagus. Kembali pada permasalahan kita semula, mengapa ketika air dicampur dengan bensin tadi terjadi nyala api...?"
"Apakah itu disebabkan karena bensin ada di atas air?"
"Pendapatmu hampir tepat...!"
"Bagaimana berat jenis air dan bensin itu?"
"Bagus, coba kamu perjelas pertanyaannya!"
"Apakah air memiliki berat jenis yang lebih berat dibandingkan bensin?"
"Menurut kamu bagaimana..."
Siswa berpikir lagi.
"Saya kira air memiliki berat jenis yang berbeda dengan bensin. Hal ini dapat dibuktikan dari proses menyalanya api tadi..."
Pak guru tersenyum puas, sambil mengangkat ibu jarinya.

Cerita di atas adalah contoh pembelajaran yang diterapkan guru dengan menggunakan Strategi Pemblajaran Inkuiri (SPI). Strategi ini menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran; sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.
SPI banyak dipengaruhi oleh aliran belajaran kognitif. 
Teori belajar lain yang mendasari SPI adalah teori belajar konstruktivistik.


B. Konsep Dasar SPI
SPI adalah rangkaian kegiatan dan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Strategi ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan.
Ciri-ciri utama SPI :
  1. strategi ini menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi ini menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
  2. seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).
  3. Tujuan dari strategi ini adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
Strategi ini akan efektif manakala :
  • Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
  • Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
  • Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
  • Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir.
  • Jika jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
  • Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa
C. Prinsip - prinsip Penggunaan SPI
  1. Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
  2. Prinsip Interaksi
  3. Prinsip Bertanya
  4. Prinsip Belajar untuk Berpikir
  5. Prinsip Keterbukaan
D. Langkah-langkah Pelaksanaan SPI
  • Orientasi
  1. Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
  2. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
  3. Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.
  • Merumuskan masalah
  1. Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa.
  2. Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
  3. Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
  • Hipotesis
 Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji.
  • Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan.
  • Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan penumpulan data.

  • Merumuskan kesimpulan
merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.


E. Kesulitan Implementasi SPI
  1. SPI merupakan strategi yang menekankan kepada proses berpikir yang berdasarkan kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran sebagai proses menyampaikan informasi yang lebih menekankan kepada hasil belajar, banyak yang berkeberatan untuk mengubah pola mengajarnya. 
  2. Sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru, dengan demikian bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama.
F. Keunggulan SPI
  1. SPI menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran dianggap lebih bermakna
  2. SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
  3. SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
  4. SPI dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata
Dirgantara Wicaksono

Sabtu, 16 Mei 2015

STRATEGI PEMBELAJARAN EKSPOSITORI

Kamis, 7 Mei 2015

Ragam Strategi Pembelajaran, antara lain :
  1. Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE)
  2. Strategi Pembelajaran Inquiri (SPI)
  3. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM)
  4. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)
  5. Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)
  6. Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL)
  7. Strategi Pembelajaran Afektif

  1. Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE) 
  • Pengertian  
Strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secara verbal dari seorang guru kepada sekelompok siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal.
Roy Killen (1998) menamakan strategi ini dengan istilah strategi pembelajaran langsung (direct instruction), karena materi pelajaran disampaikan langsung oleh guru, siswa tidak dituntut untuk menemukan materi.

# Karakteristik Strategi Ekspositori
  • Dilakukan dengan cara menyampaikan materi secara verbal.
          Artinya bertutur secara lisan merupakan alat utama dalam melakukan strategi ini, oleh karena itu sering orang mengidentikannya dengan ceramah.
  • Biasanya materi pelajaran yang disampaikan adalah materi yang sudah jadi.
          Seperti data atau fakta, konsep - konsep tertentu yang harus dihafal sehingga tidak menuntut siswa untuk berpikir ulang.
  • Tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi pelajaran itu sendiri.
          Artinya setelah proses pembelajaran berakhir siswa diharapkan dapat memahaminya dengan benar dengan cara dapat mengungkapkan kembali materi yang telah diuraikan

Prinsip-prinsip Penggunaan Strategi Pembelajaran Ekspositori
  1. Beorientasi pada Tujuan
  2. Prinsip Komunikasi
  3. Prinsip Kesiapan
  4. Prinsip Berkelanjutan
Prosedur Pelaksanaan Strategi Ekspositori
  1. Rumuskan Tujuan yang Ingin Dicapai
  2. Kuasai Materi Pelajaran dengan Baik
  3. Kenali Medan dan Berbagai Hal yang Dapat Memengaruhi Proses Penyampaian
Langkah dalam Penerapan Strategi Ekspositori, yaitu :
  • Persiapan (preparation
  1. Mengajak siswa keluar dari kondisi mental yang pasif.
  2. Membangkitkan motivasi dan minat siswa untuk belajar.
  3. Merangsang dan menggugah rasa ingin tahu siswa.
  4. Menciptakan suasana dan iklim pembelajaran yang terbuka.
     Beberapa hal yang harus dilakukan dalam langkah persiapan di antaranya adalah :
  1. Berikan sugesti yang positif dan hindari sugesti yang negatif.
  2. Mulailah dengan mengemukakan tujuan yang harus dicapai.
  3. bukalah file dalam otak siswa.
  • Penyajian (presentation)
  1. Penggunaan bahasa
  2. Intonasi suara
  3. Menjaga kontak mata dengan siswa
  4. Menggunakan joke-joke yang menyegarkan
  • Menghubungkan (correlation)
          Langkah menghubungkan materi dengan pengalaman siswa atau dengan hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat menangkap keterkaitan dalam struktur pengetahuan yang telah dimilikinya.

  • Menyimpulkan (generalization)
          Menyimpulkan adalah tahapan untuk memahami inti (core) dari materi pelajaran yang telah disajikan. Menyimpulkan bisa dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya pertama, dengan cara  mengulang kembali inti-inti materi yang menjadi pokok persoalan. Kedua, dengan cara memberikan beberapa pertanyaan yang relevan dengan materi yang telah disajikan. Ketiga, dengan cara maping melalui pemetaan keterkaitan antarmateri pokok-pokok materi.
  • Penerapan (aplication)
          Langkah aplikasi adalah langkah unjuk kemampuan siswa setelah mereka menyimak penjelasan guru. Teknik yang biasa dilakukan pada langkah ini diantaranya, pertama, dengan membuat tugas yang relevan dengan materi yang telah disajikan. Kedua, dengan memberikan tes yang sesuai dngan materi pelajaran yang disajikan.

Keunggulan dan Kelemahan Strategi Ekspositori
  • Keunggulan
  1. Guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran.
  2. Dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai siswa cukup luas, sementara itu waktu yang dimiliki untuk belajar terebatas.
  3. Selain siswa dapat mendengar melalui penuturan (kuliah) tentang suatu materi pelajaran, juga sekaligus siswa bisa melihat / mengobservasi (melalui pelaksanaan demonstrasi).
  4. Bisa digunakan untuk jumlah siswa dan ukuran kelas yang besar.
  • Kelemahan
  1. Hanya mungkin dapat dilakukan terhadap siswa yang memiliki kemampuan mendengar dan menyimak secara baik.
  2. Strategi ini tidak mungkin dapat melayani perbedaan setiap individu baik perbedaan kemampuan, perbedaan pengetahuan, minat, dan bakat, serta perbedaan gaya belajar.
  3. Diberikan melalui ceramah, maka akan sulit mengembangkan kemampuan siswa dalam hal kemampuan sosialisasi, hubungan interpersonal, serta kemampuan berpikir kritis.
  4. Keberhasilan strategi ini sangat tergantung kepada apa yang dimiliki guru, seperti persiapan, pengetahuan, rasa percaya diri, semangat, antusiasme, motivasi dan berbagai kemampuan seperti kemampuan bertutur dan kemampuan mengelola kelas. Tanpa itu sudah dapat dipastikan proses pembelajaran tidak mungkin berhasil.
  5. Oleh karena gaya komunikasi strategi ini lebih banyak terjadi satu arah (one-way communication), maka kesempatan untuk mengontrol pemahaman siswa akan materi pembelajaran akan sangat terbatas pula. Di samping itu, komunikasi satu arah bisa mengakibatkan pengetahuan yang dimiliki siswa akan terbatas pada apa yang diberika guru.
Aliran psikologi belajar yang sangat memengaruhi SPE adalah aliran elajar behavioristik, yang lebih menekankan kepada pemahaman bahwa perilaku manusia pada dasarnya keterkaitan antara stimulus dan respons, oleh karenanya dalam implementasinya peran guru sebagai pemberi stimulus merupakan faktor yang sangat penting.
Metode pembelajaran dengan kuliah merupakan bentuk strategi ekspositori.

Dirgantara Wicaksono