A. Pendahuluan
Seorang guru IPA akan mengajarkan tentang perbedaan berat jenis antara air dan bensin. setelah ia menyampaikan pokok bahasan kepada siswa yang diajarnya, guru tersebut kemudian menuangkan bensin dari dalam botol yang sengaja ia bawa ke dalam sebuah cangkir yang ada di mejanya. Setelah itu kemudian ia juga menuangkan air ke dalam tempat yang sama. Sambil berlaga seorang pesulap, pak guru kemudian menyalakan api, dan meletakkannya di atas cairan itu. Api pun menyala. Seluruh siswa merasa heran melihat peristiwa itu. Secara serentak mereka bertanya : "Mengapa bisa terjadi seperti itu? Bukankah bensin itu ada di bawah air?"
Pak guru IPA tersenyum sambil mengangkat bahunya.
"Ya, mengapa?" timpal pak guru. "Coba siapa yang dapat menebak kira - kira apa sebabnya!"
Seluruh siswa tampak seperti berpikir. Tiba - tiba seorang siswa bertanya sambil mengacungkan tangannya, "Apakah air yang bapak tuangkan tadi lebih banyak dibanddingkan bengsin?"
"Oh, tidak..." jawab pak guru
"Apakah itu disebabkan karena air bercampur dengan bensin?"
"Emh...Bapak kira tidak, tuh...!"
Seluruh siswa terdiam sambil menatap nyala api yang kian mengecil dan akhirnya padam.
"Nah, sekarang coba kalian lihat, api itu telah padam. Kita coba sekarang bakar lagi..." kata pak guru sambil menyalakan kembali apinya dan meletakkannya kembali di atas cairan itu. Namun, ternyata api tidak mau menyala. "Ternyata tidak mau menyalakan...!"
"Ya...!" kata siswa serempak.
"Apakah cairan itu telah habis...?"
"Coba kalian lihat sendiri!" kata pak guru sambil memperlihatkan tempat air. "Apa yang kamu lihat...?"
"Cairannya masih ada...!"
"Cairan apa yang masih ada itu?"
Kembali siswa terdiam untuk beberapa saat. Pak guru menatap siswa sambil memancing siswa untuk menjawab atau mengeluarkan pendapat. Namun, tidak ada seorangpun yang berkata.
"Nah, kalau begitu bapak akan coba membakar kembali cairan ini" kata pak guru. Namun, lagi-lagi api tidak mau menyala seperti pada demonstrasi yang pertama tadi.
Tiba-tiba seorang siswa mengacungkan tangan sambil tersenyum.
"Saya tahu jawabannya, Pak!"
"Bagus, coba apa?"
"Cairan yang tersisa itu adalah air, Pak!"
"Kenapa kamu bisa mengatakan demikian?"
"Sebab bensin sudah habis terbakar."
"Bagus. Kembali pada permasalahan kita semula, mengapa ketika air dicampur dengan bensin tadi terjadi nyala api...?"
"Apakah itu disebabkan karena bensin ada di atas air?"
"Pendapatmu hampir tepat...!"
"Bagaimana berat jenis air dan bensin itu?"
"Bagus, coba kamu perjelas pertanyaannya!"
"Apakah air memiliki berat jenis yang lebih berat dibandingkan bensin?"
"Menurut kamu bagaimana..."
Siswa berpikir lagi.
"Saya kira air memiliki berat jenis yang berbeda dengan bensin. Hal ini dapat dibuktikan dari proses menyalanya api tadi..."
Pak guru tersenyum puas, sambil mengangkat ibu jarinya.
Cerita di atas adalah contoh pembelajaran yang diterapkan guru dengan menggunakan Strategi Pemblajaran Inkuiri (SPI). Strategi ini menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung. Peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran; sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.
SPI banyak dipengaruhi oleh aliran belajaran kognitif.
Teori belajar lain yang mendasari SPI adalah teori belajar konstruktivistik.
B. Konsep Dasar SPI
SPI adalah rangkaian kegiatan dan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.
Strategi ini sering juga dinamakan strategi heuristic, yang berasal dari bahasa Yunani, yaitu heuriskein yang berarti saya menemukan.
Ciri-ciri utama SPI :
- strategi ini menekankan kepada aktivitas siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya strategi ini menempatkan siswa sebagai subjek belajar.
- seluruh aktivitas yang dilakukan siswa diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri dari sesuatu yang dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap percaya diri (self belief).
- Tujuan dari strategi ini adalah mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis, dan kritis, atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
- Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
- Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu pembuktian.
- Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap sesuatu.
- Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memiliki kemauan dan kemampuan berpikir.
- Jika jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa dikendalikan oleh guru.
- Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan yang berpusat pada siswa
- Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
- Prinsip Interaksi
- Prinsip Bertanya
- Prinsip Belajar untuk Berpikir
- Prinsip Keterbukaan
- Orientasi
- Menjelaskan topik, tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa.
- Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan.
- Menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan belajar.
- Merumuskan masalah
- Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh siswa.
- Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki yang jawabannya pasti.
- Konsep-konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih dahulu oleh siswa.
- Hipotesis
- Mengumpulkan data
- Menguji hipotesis
- Merumuskan kesimpulan
E. Kesulitan Implementasi SPI
- SPI merupakan strategi yang menekankan kepada proses berpikir yang berdasarkan kepada dua sayap yang sama pentingnya, yaitu proses belajar dan hasil belajar. Guru yang sudah terbiasa dengan pola pembelajaran sebagai proses menyampaikan informasi yang lebih menekankan kepada hasil belajar, banyak yang berkeberatan untuk mengubah pola mengajarnya.
- Sejak lama tertanam dalam budaya belajar siswa belajar pada dasarnya adalah menerima materi pelajaran dari guru, dengan demikian bagi mereka guru adalah sumber belajar yang utama.
- SPI menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran dianggap lebih bermakna
- SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
- SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
- SPI dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata
Dirgantara Wicaksono
Tidak ada komentar:
Posting Komentar